Minggu, 18 November 2018
Home / Artikel / Kejujuran yang Tertunda Oleh Jesica kelas 7c dan Tuti Silaban,S.Pd

Kejujuran yang Tertunda Oleh Jesica kelas 7c dan Tuti Silaban,S.Pd

 

Nina dan Eva adalah kakak beradik. Mereka hanya di asuh oleh ayah, sedangkan ibunya sudah meninggal ketika Eva berumur satu tahun. Ayahnya adalah sosok yang tegas, tapi sangat perhatian. Segala kebutuhan sekolah terpenuhi. Dan setiap hari minggu, ayahnya selalu mengajaknya ke gereja. Ayah menginginkan Nina dan Eva menjadi anak yang mandiri.
Sekarang Nina sudah kelas 1 SMP, sedangkan Eva duduk di kelas 4 SD. Nina sebenarnya anak yang baik, rajin ke gereja. sedangkan tetapi Eva sedikit ceroboh. Sebenarnya Eva sudah berusaha untuk tidak ceroboh lagi, dan ayahnya sudah sering mengingatkan agar Eva bisa berubah.
Pada suatu malam, Nina tiba-tiba terbangun. Dia sangat haus, lalu dia bergegas ke dapur untuk mengambil air minum. Nina terkejut melihat Eva ada di sana.
“ Eva.. ngapain di sini?” Tanya Nina
“ Aku haus kak!” jawab Eva singkat.
“Oh.. kakak juga haus, kita pake satu gelas aja ya, papa tidak capai mencucinya nanti, kata Nina memberi usul”.
“Oke kak, Jawab Eva.
Lalu Nina meraih sebuah gelas dari rak piring dan mengisi dengan air putih lalu memberikannya kepada Eva. Dia segera minum dan memberikannya pada Nina. Tiba-tiba gelas itu jatuh dari genggaman Nina, pecah berantakan di lantai dapur. Suara pecahan itu membangunkan ayahnya .
“ Ada apa ini ribut-ribut? Apa yang kalian lakukan di dapur ini?” Tanya ayah marah.
Nina dan Eva saling berpandangan cemas dan ketakutan.
“ Pasti kau Eva yang bikin pecah gelas itu, tuduh ayah.
“Iya Yah, Eva minta minum, lalu Nina temani ke dapur mengambilnya, eh ..malah dia jatuhin gelasnya, “ jawab Nina berbohong.
“Bohong, Yah, Kak Nina yang pecahin gelas,” sahut Eva berusaha jujur.
“ Bukan Nina, Yah.. tapi Eva. Ayo Eva ngaku saja. Kamu kan selalu ceroboh, “ jawab Nina berusaha menyangkal.
“Sudah, sudah jangan ribut lagi. Eva karena kau masih ceroboh, hukumannya ayah tidak beri uang jajanmu selama seminggu. Sekarang kalian kembali tidur, agar tidak terlambat pergi ke gereja. “ujar ayah tegas.
Keesokan harinya, seperti biasa mereka pergi ke gereja. Eva tidak sedikit pun bicara sama Nina. Eva sangat kesal dan kecewa sama Nina dan ayah. Kesal karena Nina sudah menuduhnya mecahin gelas. Kecewa karena ayahnya tidak percaya dengan ucapannya.
Selama ibadah Nina duduk dengan gelisah. Dia tidak mengikuti Misa dengan tenang. Sesekali dia melirik ayah dan Eva. Dadanya bergemuruh dan terasa sesak. Penyesalan menghantui ruang hatinya Dia merasa kalau tidak jujur dan sudah berbuat dosa pada ayah dan adiknya. Rasa bersalah semakin menghimpit jiwanya, ketika Romo mengatakan bahwa kejujuran harus selalu diterapkan dalam kehidupan, meskipun sulit mempraktekkannya dalam hidup sehari-hari. Mulailah dengan diri sendiri, dengan keluarga lalu dengan orang lain. Jika saat ini ada kesalahan yang dilakukan, akuilah dan katakana sejujurnya, karena Tuhan mengampuni dan mengasihi orang yang berbuat salah.Mendengar renungan yang disampaikan Romo, Nina berjanji dalam hatinya akan mengatakan yang sebenarnya.
Sepulang dari ibadah, Nina menghampiri ayah dan adiknya di ruang tamu.
“Ayah, Nina minta maaf ya, kejadian malam itu bukan Eva yang pecahin gelasnya, tapi Nina,”ucap Nina dengan suara rendah.
Apa Nina? Kenapa kamu bohong sama ayah,” Ayah sudah menghukum Eva yang tidak bersalah, ucap ayah tegas.
“Aku takut ,Yah. Maafkan Nina! Nina siap menerima hukuman dua kali lipat dari ayah, ucap Nina sungguh-sungguh.”
“Eva, kakak minta maaf, sudah jahat sama kamu!”ucap Nina.
“Tidak mau! Kakak sudah berbuat jahat sama Eva. Selama ini Eva sudah berusaha untuk tidak ceroboh lagi, tapi kakak malah menuduh dan membuat ayah tidak percaya sama Eva,”jawab Eva kecut.
“Iya kakak salah, aku janji akan menjadi kakak yang baik untuk Eva,”ucap Nina sungguh-sungguh.
“Baiklah, aku memaafkan kakak. Dan lain kali tidak seperti itu lagi,”sahut Eva.
“Ayah juga minta maaf iya, Eva sudah memotong uang jajan kamu. Ayah akan ganti dua kali lipat. Dan kamu Nina, ayah akan menghukummu, sesuai janjimu. Ayah akan memotong uang jajanmu selama dua minggu,”ucap ayah tegas.
“Siap ,Yah! Asal ayah dan Eva memaafkan perbuatanku. Tidak apa-apa aku tidak jajan selama dua minggu,” ucap Nina meringis.
“Tenang saja kak, uang jajan Eva kita bagi dua ,” bisik Eva pelan.
Akhirnya mereka saling berpelukan. Nina berjanji dalam hatinya akan menjadi kakak yang baik buat eva. Dan Eva merasa senang karena ayah sudah percaya padanya. Sementara ayah berjanji dalam hatinya tidak menuduh anaknya sembarangan dan berusaha mempercayai serta menghargai usaha Eva.