Kamis, 21 Februari 2019
Home / Artikel / Pohon Keberuntungan Oleh Angelica dan Tuti Silaban,S.Pd

Pohon Keberuntungan Oleh Angelica dan Tuti Silaban,S.Pd

Pagi ini, Meimei sangat senang sekali karena seminggu lagi Imlek. Tahun baru ini sangat ditunggu oleh Meimei, karena pada saat itu semua keluarga akan berkumpul dan bertemu dan banyak sekali makanan. Tapi yang paling ditunggu oleh Meimei adalah Angpao dari papa, mama, om, tante dan kerabatnya yang lain.
Sebenarnya Meimei masih kecil, baru berumur delapan tahun. Namun walaupun dia masih kecil, papa dan mamanya sudah mengenalkan tradisi itu padanya sejak berumur satu tahun.
“ Hari sabtu kita belanja yuk!” ajak mama.
“ Hore..! kita akan pergi belanja,” sorak Meimei sangat senang.
Keesokan harinya saat di sekolah Meimei bercerita kepada teman-temannya bahwa hari sabtu ini mereka akan pergi belanja ke Mall, dan dia bercerita bahwa mereka akan belanja bermacam-macam barang. teman-temanya mendengarkan dengan serius.
Sepanjang perjalan pulang sekolah Meimei tersenyum-senyum sendiri. Dia sangat senang membayangkan asyiknya memilih-milih barang yang akan dibelinya nanti.
“Mama Jadi kan kita belanja besok,” tanya Meimei mengagetkan mama yang sedang memasak di dapur.
“Jadi. Sini makan dulu, mama udah masak makanan kesukaanmu,” ujar mama.
“ Emm.. Yammy masakan mama sangat lezat,” ujar Meimei makan dengan lahapnya.
Hari sabtu pun tiba . Meimei bangun pagi sekali. Tanpa disuruh papa dan mamanya, dia sudah selesai mandi dan sudah siap berangkat. Papa dan mamanya sangat heran melihat perubahan Meimei.
Akhirnya mereka sampai di toko yang menjual segala pernak-pernik untuk Imlek. Meimei bingung memilih baju yang akan dipakainya nanti pada saat imlek tiba.
“Semuanya bagus-bagus ma, Ucap Meimei bingung
“Udah baju merah ini sangat bagus dan cocok buat kamu, serasi dengan baju mama dan papa yang ini,” sahut mama menyodorkan kepada Meimei.
Lalu Meimei melihat sebuah aksesoris dari pohon bambu kecil yang diikat dengan pita merah.
Pohon itu sangat menarik perhatian Meimei, lalu dia menunjukkannya pada mama. Akhirnya tanpa pikir panjang mama pun membayarnya di kasir karena papa dan mamanya sangat suka dengan pohon itu. Apalagi ketika penjual di toko itu mengatakan bahwa pohon itu membawa keberuntungan, tapi jangan sampai pecah. Kalau pecah bisa membawa kesialan.
Saat sampai di rumah Meimei menaruh pohon itu di meja di ruang tamu. Dia sangat percaya bahwa pohon itu akan membawa hoki. Meimei terus memandangi pohon itu sampai dia tertidur di kursi. Tanpa sengaja tangannya menyentuh pohon itu dan menjatuhkannya.
“Prang…! Meimei terbangun kaget mendengar suara itu.
Pohon itu pecah terbelah dua. Meimei sedih dan takut. Sedih karena pohon kesayangannya pecah, takut karena ingat omongan penjual toko itu. Meimei takut akan terjadi sesuatu pada papa dan mama.
Keesokan harinya saat istirahat di sekolah, di dalam tasnya tidak ada kotak nasinya. Sesampai di rumah dia buka tudung saji di meja makan, tak ada nasi dan lauk. Di teras rumah pun tidak ada mobil papanya.
Meimei takut sekali. Akhirnya dia menangis. Dia menghampiri mamanya. Wajah mamanya terlihat sedih juga. Dia merasa sangat bersalah memecahkan pohon itu
“Mama maafkan Meimei, karena pohon itu pecah mama jadi sedih dan hidup kita jadi miskin,”ucap Meimei sambil menangis.
“Loh.. kok Meimei menangis?” tidak apa-apa pohon itu pecah. Mama tidak marah kok!” kata mama.
“Tapi kita jadi miskin, mobil papa jadi dijual, “ ucap Meimei.
“Dijual? Tidak kok, mobil papa lagi dipinjam sama tetangga mengantar saudaranya ke Jawa, ucap mama.
“ Terus kenapa tidak ada makanan di meja makan?” ucap meimei lagi
“Oh… itu! papa akan mengajak kita makan di restoran, papa dapat bonus dari kantornya! Lagi pula pohon tidak pernah membawa keberuntungan. Yang memberi keberuntungan adalah Tuhan. Asalkan kamu belajar sungguh-sungguh, bekerja keras dan jujur dan mau membantu orang lain.
“Tapi penjual toko itu bilang pohon itu bisa membawa hoki dan kesialan,” ucap meimei lagi.
“ Oh.. itu tidak benar! Kesialan itu tidak datang bila kita hati-hat, nasihat mama.
Akhirnya Meimei berhenti menagis dan menuruti nasihat mama supaya tidak boleh percaya dengan hoki atau keberuntungan, karena keberuntungan itu datang dari usaha dan kerja kerja keras. Oleh karena itu mama dan papa Meimei selalu meminta agar dia belajar dan selalu berusaha.