Rabu, 18 Oktober 2017
Home / Artikel / Mencari Kemasan Baru

Mencari Kemasan Baru

Albert Efendy

Kopi adalah salah satu minuman kesukaanku. Entah sejak kapan saya menyukai  kebiasaan menyeruput minuman hitam-manis itu, saya tidak ingat lagi. Yang jelas jumlah gelas kopi yang saya minum setahun hamper sama dengan jumlah hari di dalamnya. Kegemaran ini diketahui oleh hamper semua teman dekat saya saat kuliah.

Suatu ketika, seorang teman (lagi ketiban rejeki nomplok kali) mengajak saya  menikmati kopi yang menurutnya ‘minuman kelas atas’ yaitu stur###k  coffee. Sejujurnya, bukan rasa kopi tersebut yang  membuat saya sangat antusias mengiyakan ajakannya itu, tetapi  ingin tahu saja  seperti apa kopi ‘elit’ tersebut (selain bahwa, saya selalu berpikir yang gratis itu enak). Di tambah lagi penyajiannya dipenuhi proses yang unik dan cukup memakan waktu.

Tibalah saat yang saya nanti-nantikan itu. Salah satu sudut Ambarukmo Plaza-Jogjakarta menjadi saksi bisu. Namun, apa mau dikata, secangkir kopi yang muncul dihadapanku saat itu …amat biasa!!! (entahkan karena  saya yang mati rasa  atau pelayan café itu salah menyajikan kopi). Yang nampak di mataku hanyalah secangkit ‘amat kecil’ kopi susu-kecoklatan dengan rasa yang menurut saya tidak istimewa, saya sering menikmati rasa kopi seperti itu dengan mudah di pinggir jalan atau  dari mbak-mbak penjual kopi di bilangan Monas-Jakarta. Dan lagi, suatu kenyataan yang di  luar dugaan saya adalah harganya waktu itu mencapai Rp. 70.000;. Alamak… dengan duit segitu rasa-rasanya saya bisa membeli kopi instant untuk jatah minum selama dua bulan.

Lha, di mana letak keistimewaan  kopi itu sebenarnya??  Berbagai macam asumsi  bermekaran di ruang ide saya. Minuman itu istimewa karena kopi import, disajikan oleh pelayan cantik dalam sebuah cangkir yang ‘cakep’ pula, dijual di sebuah Café dalam sebuah Mall, merk-nya sudah mendunia dan lain sebagainya… Dan, di situlah ‘masalahnya’!!!  orang-orang negeriku ini sering terjebak oleh kemasan dan penyajian serta  popularitas merk.  Sebuah barang sederhana, dibungkus secara elegan, ditempatkan di super maket akan terjual dengan harga jauh lebih tinggi dibandingkan barang yang sama,dibungkus daun pisang dan dijual di pasar tradisional. Terkadang, kita haya membayar mahal sebuah merk saja. Semisal, nasi dari beras Karawang dibungkus kertas berlogo asing, dengan lauk ayam  Garut yang digoreng dengan tepung juga bermerk asing dihargai tiga kali lipat dibanding paketan nasi -ayam goreng dengan cita rasa yang hampir sama di tempat pecel ayam di pinggir jalan. Jadi, apanya yang mahal?? Ya mereknya!!

Meski begitu, terlepas  dari apakah pengalaman saya berbeda dengan pengalaman penikmat kopi yang lain, tetaplah hal yang saya anggap kurang ini mengajarkan hal baik. Apapun yang kita ingin buat dan hasilkan, pengemasan yang menarik tetaplah suatu factor penting dalam proses menuju keberhasilannya. Kegiatan belajar-mengajar, kegiatan keagamaan, kegiatan pengembangan bakat dan lain sebagainya mesti dibuat dengan kemasan yang menarik dan ‘elegan’(dengan tetap meningkatkan kualitas isi, tentunya!). Seperti apa kemasan yang menarik  itu, marilah kita cari dan pelajari bersama  agar sekolah, tempat ibadah, tempat belajar, tempat pengembangan bakat tidak ditinggalkan oleh generasi penerus bangsa ini. Kiranya tempat-tempat yang menjadi dapur penghasil generasi yang berkualitas  (smart, berprestasi dan beriman)  tidak tergeser oleh tempat-tempat game on line dan sejenisnya yang lebih banyak memproduksi generasi galau dan fustrasi… mari kita temukan dan kerja!!