Jumat, 23 Agustus 2019
Home / Berita / Tarsisius Day 2016

Tarsisius Day 2016

SMA Tarsisius Vireta memperingati dan merayakan Santo Pelindung Sekolah pada 15 Agustus 2016. Meski pertama kali dirayakan secara khusus, kegiatan Tarsisius day sangat semarak diramu oleh OSIS SMA Tarsisius Vireta. Memang urusan merancang dan melaksanakan kegiatan bagi teman-teman OSIS SMA Vireta tidak diragukan lagi kreatifitas dan leadershipnya.

Kegiatan diawali dengan perayaan Ekaristi kudus yang dipimpin oleh pastor Paroki Gereja St. Gregoruis Rm.Yustinus Sulistiyadi Pr yang diikuti seluruh siswa dan guru karyawan SMA Tarsisius Vireta. Dalam kotbahnya Romo Sulis begitu panggilannya menegaskan kembali perlunya semangat juang, ketangguhan dan kreatifitas para siswa ditengah persaingan di era globalisasi ini. Sebagai pelajar harus tampil sebagai inovator bukan hanya penikmat/pemakai alias pembebek hasil karya-karya orang lain. Jadilah kreator dan inovator sehingga tidak tergilas dengan kemajuan zaman yang super cepat, tegasnya.

Setelah Misa dilanjutkan dengan aneka kegiatan lomba yang sangat meriah melibatkan seluruh siswa dari tiap kelas dan jenjang. Lomba mendesain logo dan poster St. Tarsisius, Fashion show dengan desain bahan –bahan barang bekas dan paduan suara. Setiap kelas menampilkan hasil karya terbaiknya untuk ditampilkan dan dilombakan. Lalu masing-masing kategori lomba dipilih 3 terbaik.

Naah…mengingat pelindung sekolah Tarsisius ini kurang familiar di telinga umat apalagi siswa maka alangkah baiknya kita kembali membaca dan menyimak kembali siapa sebenarnya St. Tarsisius. Kita belajar dari semangat dan pengorbanan hidupnya demi imannya akan Yesus Kristus.

Riwayat ST.Tarsisius pelindung sekolah kita.

Santo Tarsisius lahir pada tanggal 15 Agustus sekitar tahun 250 di Roma. Setiap pagi, sebelum fajar ia sering melewati jalan-jalan dan lorong-lorong kota Roma ke tempat orang Kristiani berkumpul. Gua – gua bawah tanah, yang sebetulnya adalah kuburan, mereka gunakan sebagai tempat pertemuan. Tempat seperti itu dinamakan Katakomba. Yaitu sebgangn lurus panjang gelap dan ditutup oleh batu panjang. Mereka hanya berani berkumpul pada malam hari, karena agama mereka terlarang.

Pada zaman kaisar Valerianus, orang-orang Nasrani tidak diperkenankan untuk menerima sakramen (Tubuh Kristus) dan diharuskan untuk menyembah berhala. Bila tidak mau menyembah berha, maka akan ditangkap dan dibunuh. Pada suatu hari seperti biasa Tarsisius pergi ke Katakomba untuk mengikuti Misa. Pada saat itu Bapa Suci (Sri Paus) ingin mempersembahkan misa sendiri. Tapi hanya sedikit orang yang datang, karena kebanyakan dari orang Kristiani sudah ditangkap, adapula yang mengungsi ke luar kota untuk menyelamatkan diri. Tidak seperti biasa Tarsisius tidak langsung pulang, tetapi membantu untuk mengatur alat Misa. Saat itu Sri Paus mengeluh bahwa ada petugas penjara yang datang secara diam-diam. Dia bilang tawanan-tawanan Nasrani ingin sekali menyambut Tubuh Kristus sebelum dibunuh. Tetapi keadaannya tidak memungkinkan karena wajah Sri Paus sudah tidak asing bagi kebanyakan orang.

Maka dari itu Tarsisius memberanikan diri untuk memberikan sakramen kepada tawanan-tawanan tersebut. Pada pagi-pagi benar, Tarsisius berjalan menelusuri setiap Katakomba dan menuju penjara dimana para tawanan berada, dia membawa Hosti Suci dalam kotak emas dan dikalungkandengan tali pada lehernya serta menutupinya dengan toga yang ia pakai. Tetapi malang bagi nasibnya, di tengah perjalanan ia bertemu dengan teman-teman sekolahnya, teman-teman mengetahui bahwa ia membawa sesuatu dari orang Kristiani, mereka meminta paksa dan Tarsisius menolaknya, sehingga Tarsisius dilempari batu, dipukuli dan ditendang sampai sekarat.

Tak lama kemudian ia bertemu dengan seorang prajurit yang kebetulan beragama Nasrani. Anak-anak itu pun lari pontang-panting karena teriakan prajurit itu. Setelah itu ia meminta tolong kepada prajurit tersebut untuk mengantarkannya kepada para tawanan. Setelah prajurit itu bersedia untuk membawa Hosti Suci, Tarsisius pun dibawa ke rumah orang Kristiani terdekat dan ditinggalkan, karena prajurit itu mau mengantarkan Komuni Suci secara diam-diam kepada para tawanan. Tak lama kemudian Tarsisius meninggal, lukanya terlalu parah. Ia dimakamkan di Katakomba Kalikstus, di Jalan Apia, dekat makam para Sri Paus.

Dari peristiwa tersebut maka Gereja memilih dia menjadi pelindung akolit(proakolit), karena telah mengorbankan hidupnya demi Ekaristi Kudus. Martir suci ini diperingati setiap tanggal 15 Agustus.(Sumber: Blog misdinarkramat)