Sabtu, 19 Agustus 2017
Home / Artikel / Sekolah Ini Mewajibkan Muridnya Menulis Skripsi, Alasannya Apa Ya?

Sekolah Ini Mewajibkan Muridnya Menulis Skripsi, Alasannya Apa Ya?

Skripsi. Mungkin kata ini terdengar sangat menakutkan bagi temen-temen yang sedang duduk di bangku kuliah. Gimana nggak, guys. Mulai dari jam bermain, waktu tidur, hingga malam mingguan bareng si doi pun bisa terenggut karena harus ngetik ribuan kata dalam ratusan lembar demi mendapatkan gelar sarjana.

Tapi, gimana jadinya ya kalau skripsi udah dialami oleh temen-temen yang masih mengenyam pendidikan di bangku SMA?

Nah, terdapat sebuah SMA di daerah Tangerang yang mewajibkan murid-muridnya mengerjakan skripsi sebagai syarat untuk mengikuti ujian semester lho, bro!

Yap, SMA Tarsisius Vireta! Sekolah Katolik yang selalu menyeimbangkan pendidikan akademis dan non akademisnya ini memiliki dua kegiatan khas yang nantinya bakal berujung pada sebuah karya ilmiah atau skripsi, yaitu Live In dan Praktek Kerja Lapangan (PKL).

“Tarsisius Vireta ini memiliki ciri khasnya nih, ada yang namanya Live In dan PKL,” ujar Bernardus Apul Tumanggor, selaku Kepala Sekolah Tarsisius Vireta yang telah menjabat selama tiga tahun.

Jadi, Live In itu adalah kegiatan dimana murid-murid kelas 10 Tarsisius Vireta harus pergi ke kota-kota di Jawa Tengah seperti Yogyakarta dan tinggal di rumah dari sebuah keluarga yang tidak mereka kenal.

“Anak-anak kelas 10 ini bakal tinggal empat sampai lima hari bersama sebuah keluarga yang nggak mereka kenal. Mereka bakal mengikuti dan membantu segala aktivitas dari keluarga ini,” lanjutnya.

Lalu juga ada PKL nih, geng. Namun, menurut penuturan Pak Bernard, PKL yang dimiliki Tarsisius Vireta nggak sama seperti yang terjadi di SMK pada umumnya.

“PKL ini untuk anak kelas 11 saja, nanti mereka akan terjun ke dalam dunia industri. Banyak sekali perusahaan yang mau menampung. Masa PKL mereka minimal 10 hari dan maksimal adalah 1 bulan, dan semua ini mereka lakukan ketika sedang liburan panjang,” katanya.

Nah, hasil akhir dari dua kegiatan ini adalah laporan yang menyerupai skripsi lho. Segala aktivitas yang temen-temen Tarsisius Vireta lakukan selama Live In dan PKL di lapangan harus dilaporkan dengan baik dalam bentuk tulisan.

“Nah, apa yang mereka dapat selama di lapangan harus dilaporkan dalam bentuk tulisan seperti skripsi, nggak terlalu tebal sih, tapi strukturnya harus sama seperti skripsi: dari latar belakang penelitian sampai kesimpulan,” akunya.

Jangan takut, bro, semua pengerjaan skripsi ini tentunya ditemani oleh seorang guru yang bakal jadi pembimbing mereka. Ya sama aja seperti mahasiswa yang didampingi oleh seorang pembimbing.

“Nanti, kalau sudah selesai, mereka bakal diuji di depan penguji, ada bimbingannya, ini seperti sidang skripsi saja. Kalau lulus ya lulus, kalau nggak ya mereka harus revisi,” pungkas Pak Bernard yang merupakan orang asli Medan ini.

Menurutnya, semua ini dilakukan semata-mata agar temen-temen dari Tarsisius Vireta nggak kaget ketika masuk ke dunia perkuliahan dan menemukan pekerjaan rumah karya tulis yang seabrek-abrek banyaknya.

Patut dicontoh nih, bro, biar nanti pas kuliah nggak kaget lagi deh kalau harus berjam-jam nongkrong di depan laptop dan nulis ribuan kata, hehehe.

Fadli Adzani

Wartawan majalah HAI, pencinta karya Tame Impala dan keindahan alam Indonesia. Bermain bass untuk grup musik Crayola Eyes. Baca juga artikelnya di majalah Hai  dan  Wartabuana.com (1/11/2016)