Sabtu, 19 Agustus 2017
Home / Artikel / D E M E N S I A

D E M E N S I A

Derai angin menjamah lembut surai hitamnya yang terurai ke belakang. Pandangan yang kosong namun tersirat tatapan lelah disana. Langit yang berwarna jingga kegelapan tidak membuatnya beranjak untuk pindah dari tempat itu. Terdengar sayup-sayup gemercik air yang berasal dari sungai. Yah di sini lah ia, tempat dimana kita bisa sekedar mencari kebahagiaan sesaat, berlari dari kenyataan yang lebih pahit daripada khayalan.

Bukan, dia tidak sedih. Dia hanya lupa tempat dia berpulang. Dia lupa akan rumahnya. Penyakit demensia yang dideritanya tidak kunjung membaik. Penyakit dimana terjadi penurunan fungsi otak. Bahkan, ia kadang lupa bagaimana caranya membuka pintu kamar, apalagi jalan pulang. Jadi, ia hanya bisa menunggu seseorang yang dengan berbaik hati mengantarnya pulang, atau menjemputnya ke rumah.

Ia bahkan tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di tempat itu. Satu-satunya yang ada di benaknya hanyalah wajah dari kembaran sekaligus kakaknya, Viola Sanders, yang baru saja pergi meninggalkannya karena peristiwa naas itu.

Meskipun ia terkena demensia, Viona mengerti. Peristiwa naas itu disebabkan karena saat itu kembarannya sedang mencarinya kemana-mana. Seperti biasa, ia menghilang lagi. Dengan raut wajah leganya, Viola menemukan adiknya yang duduk di depan toko es krim. Saking senangnya, ia berlari menuju adiknya yang hilang itu. Namun naas, ia malah tertabrak oleh mobil yang kecepatannya tak terkira. Yah, Viona melihat seluruh kejadian itu.

Saat ini, ia berharap kakaknya yang menemukannya disini, karena hanya sang kakak yang tahu tempat persembunyian adiknya. Bisakah waktu diputar kembali? Bisakah saat itu ia saja yang tertabrak?

Pertanyaan itu selalu berputar di kepalanya. Ia menyesali dirinya sendiri, mengapa penyakit ini tidak kunjung membaik seiring berjalannya waktu? Apa salahnya? Kenapa malah sang kakak yang meninggalkannya lebih dulu?

Ia semakin merasa tidak berguna. Penyakit ini membuat keadaannya semakin menyedihkan. Jujur saja, ia benci dikasihani. Ia benci pandangan-pandangan yang menunjukkan keprihatinan tanpa menunjukkan bukti nyata. Semua itu palsu.

Tanpa Viola, apa gunanya Viona? Mereka hidup, dilahirkan, dan besar bersama. Kenapa mereka tidak pergi meninggalkan dunia bersama juga?

Tatapan kosong itu berubah menjadi tidak fokus, terhalang oleh benih-benih air yang siap meluncur keluar. Ia ingin sekali berteriak saat ini. Bahkan ia tidak tahu untuk apa dilahirkan. Dunia seolah membuatnya semakin sulit bertahan hidup. Ia hanya menyusahkan kedua orang tuanya dengan keadaan seperti ini. Ia mengerti, orang tuanya berat untuk mengurusnya sehari-hari.

Namun apa daya? Ia hamba Tuhan yang hanya bisa menerima takdir perjalanan hidupnya. Walaupun ia kehilangan kembarannya, setidaknya ia masih mempunyai kedua orang tua yang tetap menerima keadaannya dan mencintainya.

Dari arah mata hari terbit, sosok perempuan lembut datang dan duduk disamping Viona dan berkata, “Dari mana saja, sayang? Ayah dan Ibu mencarimu kemana-mana. Jangan membuat kami khawatir, Nak. Kamu satu-satunya yang kami punya sekarang”.

Mendengar hal itu, hatinya teriris. Ia benar-benar satu-satunya yang dimiliki orang tuanya, namun ia tidak bisa diharapkan. Dengan menahan tangis, ia tersenyum pada ibunya dan menggerakkan tungkainya untuk berjalan pulang ke rumah. Tentunya dengan harapan adanya secercah keajaiban yang melimpah pada dirinya. (oleh : Ananta Altriyuana – 11 A 2; Dimuat di Majalah Mata edisi 21)