Jumat, 26 April 2019
Home / Artikel / Ketika Kasih Tuhan Menjadi Nyata Dalam Diri Dea
Ketika Kasih Tuhan Menjadi Nyata dalam Diri Dea
Ketika Kasih Tuhan Menjadi Nyata dalam Diri Dea

Ketika Kasih Tuhan Menjadi Nyata Dalam Diri Dea

Oleh: Zefanya Nathanael Purnama (kelas VI IPS I)

Ketika kasih Tuhan menjadi nyata dalam diri Dea yang membenci kaum lelaki. Dea adalah anak perempuan yang diperlakukan secara tidak adil oleh ayahnya. Berikut ini, cerita tentang Dea yang mengalami perlakuan tidak adil.

Dea Tidak Mengalami Kasih Sayang Dari Ayahnya

Ini Dea. Dea adalah seorang perempuan yang belum pernah merasakan hangatnya kasih seorang bapa. Dia dilahirkan di sebuah keluarga yang sangat sederhana. Ibunya adalah seorang penjual sayur di pasar, sedangkan ayahnya adalah seorang satpam di sebuah perusahaan. Dea merupakan anak pertama dan mempunyai 2 adik perempuan. Kehidupan keluarga mereka sangat tidak baik.

Semua itu berawal ketika sang ibu melahirkan Dea. Sang ayah yang merupakan keturunan Batak mendapat pesan dari ibunya bahwa ketika dia memiliki seorang anak maka anak itu harus laki-laki agar bisa meneruskan marganya. Ketika Dea lahir, sang ayah mulai memiliki perasaan kesal terhadap anaknya karena anak yang dilahirkan bukan laki-laki, namun sang ayah masih memiliki perasaan sabar karena dia yakin bahwa akan ada anak laki-laki yang lahir di keluarganya.

Tiga tahun berlalu, sang ibu kemudian melahirkan kedua adik perempuan Dea dan kedua adiknya merupakan anak kembar. Sang ayah yang merasa kecewa mulai membenci anak-anaknya tersebut, dan dia berjanji pada dirinya bahwa dia tidak akan menyayangi perempuan termasuk anaknya. Dan ternyata janjinya itu membawa penderitaan bagi Dea beserta kedua adiknya.

Selama 10 tahun Dea beserta adiknya mendapat perlakuan kasar dari ayahnya, bahkan dia pernah dipukul oleh sang ayah hingga mukanya memar dan berdarah. Suatu ketika Dea yang sehabis pulang dari sekolah dan di rumah dia melihat ayahnya memegang golok dan golok tersebut diarahkan kearah sang ibu. Saat itu Dea sangat takut dan Dea juga khawatir akan sang ibu dan kedua adiknya. Kemudian Dea masuk dan bersembunyi di balik tembok bersama adiknya. Dea mendengar sang ayah berbicara kepada ibunya dengan nada yang keras,”MANA DUITNYA MANA DUITNYA, KAMU JADI ISTRI SAJA TIDAK BENAR, DASAR TIDAK BERGUNA”. 

Dea pun sangat takut dan bergemetar, tanpa disengaja karena takut, Dea kentut dan bunyinya terdengar oleh sang ayah. Saat itu juga sang ayah langsung memanggil Dea beserta kedua adiknya dengan nada yang keras, sontak mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah sang ayah. Kemudian sang ayah langsung menyuruh ibunya untuk segera mengambil duitnya dan mengancam akan memukul anak-anaknya bila tidak diambil.

Sang ibu langsung mengambil uang tersebut, dan anak-anaknya tersebut diperintahkan untuk sujud kepada sang ayah. Sang ayah kemudian mengarahkan golok tersebut kepada Dea. Dea yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya terdiam dan berharap ayahnya tidak membunuhnya. Kemudian sang ibu datang dan memberi uang kepada sang ayah, lalu ayahnya pergi.

Beberapa tahun kemudian sang ayah dilanda sebuah penyakit keras, sehingga sang ayah harus berada di tempat tidur. Dua minggu kemudian sang ayah dinyatakan meninggal, sang ibu beserta kedua adik Dea sangat sedih akan kepergian sang ayah. Namun Dea tidak merasakan kesedihan sama sekali melainkan sebuah kepuasan yang tidak akan pernah membuatnya puas, karena dia berfikir bahwa itu adalah sebuah hukuman atas ayahnya yang selalu kasar terhadap keluarganya

Dua bulan berlalu, Dea yang awalnya tersiksa berubah menjadi sosok yang membenci laki-laki, dan itu dibawanya sampai akhir SMA. Suatu ketika dia diajak oleh temannya untuk pergi ke gereja untuk beribadah bersama. Di gereja dia mendengar seorang Pendeta berkata”Tuhan tidak mau anak-anak-Nya memiliki perasaan dendam dan benci, Tuhan mau kita untuk bisa memaafkan dan saling mengasihi satu sama lain”. Kalimat itu terus terngian-ngiang di pikiran Dea. 

Kemudian Pendeta itu berbicara kepada jemaat-jemaat gereja, “bila ada yang saat ini memiliki rasa dendam, benci yang menyelimuti diri anda, bisa maju ke depan”. Saat itu juga Dea maju beserta jemaat lainnya. Di depan dia berdoa kepada Tuhan,”Tuhan ampuni aku Tuhan, aku gak mau jadi orang yang memiliki rasa benci dan dendam, aku ingin menjadi orang yang mengasihi satu sama lain, aku gak mau benci papa, aku sayang sama papa aku Tuhan, aku mohon Tuhan ampuni papa aku ya Tuhan yang selama ini selalu kasar terhadap keluarga aku, aku tau papa kasar, aku tau sifat papa sangat mengecewakan, tapi aku mohon Tuhan ampuni papa…”. 

Saat itu juga, tiba-tiba Dea merasakan sebuah kehangatan, sebuah pelukan hangat yang menyelimuti dirinya. Puji Tuhan, Kasih-Nya nyata terhadap dirinya. Tiba-tiba Dea mendengar suara yang berbicara kepada dirinya,” janganlah engkau takut anak-Ku, Aku disini untukmu, Akulah Bapamu wahai anak-Ku, aku mengasihimu anak-Ku”. Saat itu juga Dea merasakan damai di hatinya, damai yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Semenjak itu Dea mulai bisa mengampuni segala kesalahan yang pernah ayah lakukan kepadanya. Dea berubah menjadi sosok yang mudah mengampuni dan dia sangat mengasihi keluarganya dan teman-temannya. Dea juga sudah membuat teman-temannya yang dulunya memiliki sifat yang sangat buruk dan bahkan yang memiliki pengalaman seperti Dea untuk bertobat. Semua itu tidak akan bisa dilakukan Dea tanpa Kasih Tuhan.  

Baca juga: Gereja Menghadirkan Kerajaan Allah di Dunia

Baca juga artikel ini sebagai sumber inspirasi: Anak Perempuan Kurang Kasih Sayang Dari Ayah? Ini 8 Dampak Buruknya Pada Hubungan Asmarahttps://www.jawaban.com/read/article/id/2017/12/01/80/171130104156/anak_perempuan_kurang_kasih_sayang_dari_ayahini_8_dampak_buruknya_pada_hubungan_asmara#