Jumat, 23 Agustus 2019
Home / Artikel / Senyum; Senjata Ampuh Merajut Kebersamaan
Senyum; Senjata Ampuh Merajut Kebersamaan
Foto (para guru unit Tarsisius Vireta sebelum berangkat ke sekolah Tarsisius I)

Senyum; Senjata Ampuh Merajut Kebersamaan

Yayasan Bunda Hati Kudus (YBHK) merayakan misa syukur penutupan tahun ajaran 2018/2019 dan pembukaan tahun 2019/2020 di Kemakmuran, unit sekolah Tarsisius I, Jumat, (26/7).

Sebelum berangkat, aku dan beberapa guru unit Tarsisius Vireta, mengabadikan momen terindah saat fajar merekah. Senyum manis dari wajah-wajah para guru menghiasi panorama alam.

Seusai foto bersama, kami berangkat ke tempat yang dituju. kami sangat menikmati candaria bersama dalam kebersamaan yang memesona.

Celoteh salah seorang guru SMA Tarsisius Vireta menyemangati perjalanan. Inti pesannya, hidup ini adalah kebersamaan yang dipenuhi riak-riak senyuman. Senyum mejadi energi positif yang memberi kekuatan dan peneguhan.

Senyuman dari bibir-bibir indah terlahir dari keheningan pagi yang memberi isyarat, bahwa sukacita menjadi pilar yang menopang peziarahan bersama. Dan Tuhan adalah sumber sukacita.

Perjalanan pagi ini sangat memesona. Mentari bersinar, menerangi pepohonan yang tengah hening dalam keramaian kendaraan kesana ke mari. Suasananya sangat cerah, iklim pun bersahabat, menemani perjalanan meskipun banyak kendaraan yang membuat perjalanan kami terhambat.

Kami tidak terkejut bila kemacetan di kota sekelas Jakarta ini menghadang, sebab dalam hidup ini pun pasti ada kemacetan-kemacetan kecil-kecilan yang garang segarang awan tiba-tiba menutupi bercak-bercak sinar menuju tengah hari hingga sunset. Kami sangat menikmatinya dalam suasana keheningan.

Aku menatap para guru, masing-masing menikmati suasana keheningan. Aku pun termenung dalam jemari yang tengah menari-ria di layar HP hingga artikel ini selesai ditulis.

Namun keheningan itu berubah sekejap. Aku melontarkan candaan yang mengundang gelak tawa. Bagiku, candaan itu adalah seni merajut kebersamaan dalam persaudaraan.

Semua yang ada di dalam mobil tertawa bersama. Apalagi Sang guru bijak melantunkan lagu indah, “terlambat sudah, kau datang padaku….” Gelak tawa seolah-olah mengurangi suasana hati yang dibuntuti kemacetan. Perjalanan ini pun terkesan indah. ..Indah karena kebersamaan. Dan kebersamaan itu saling menguatkan. Aku pun semakin mampu dalam kebersamaan yang memberiku arti kasih mengalir bak sungai.

Menatap wajah binar rekan-rekan, aku sangat bersukacita yang terungkap melalui senyuman. Senyuman memampukan aku mengerti tentang indahnya kebersamaan.

Bagiku, senyum adalah senjata ampuh yang membuat kebersamaan itu semakin memesona. Ketika aku tersenyum, sesungguhnya aku mampu meremajakan kebersamaan itu dalam kemesraan kasih persaudaraan. Dan kasih adalah sumber senyuman yang tulus dalam adanya.


Oleh: Nasarius Fidin